Monday, November 24, 2014

sebuah ....

biarkan segala sesuatu pada tempatnya, tapi juga pisahkan untuk mengurainya, dalam segala sesuatu itu ada syareatnya, ada teori lahiriyahnya, ada teori batiniahnya atau ada ilmu tasawufnya, juga ada tarekatnya, dalam syareat itu ada syareat dan tasawuf, dalam tasawuf juga ada syareat dan tasawufnya, juga ada fakta hakikatnya, dalam hakikat ada sareat dan tasawufnya, dalam hakikat ada hakikat lagi di dalamnya, dan hakikatnya hakikat adalah cahaya dalam cahaya, cahaya di atas cahaya, nurun ala nurin, cahaya cahaya adalah Allah, seseorang harus melewati jalan untuk mencapai jalan, seseorang harus melewati tujuan agar sampai tujuan yang di tuju, seseorang harus melewati hidayah demi hidayah untuk mencapai puncak segala hidayah, seseorang harus melewati banyak persinggahan untuk mencapai persinggahan yang sejati, jangan tertipu oleh syaitan, yang membujukmu telah sampai, lalu kamu berhenti, sudah matipun kita masih menempuh persinggahan selanjutnya, dan menempuh perjalanan di alam ruh, dan setelah alam ruh kita menempuh lagi alam mahsar, siang ini adalah untuk menyiapkan bekal malam nanti, hari ini untuk besok, dan dunia untuk bekal akherat.
 Mahkota Ruhani

Sunday, November 2, 2014

Berbulan Madu Dengan Bidadari

Pada zaman Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam datang dan mengucapkan salam. Zahid kaku dan menjawabnya agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid….selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menyapa.

"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.

"Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…," kata Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam.

Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku hodoh, siapa yang mahu akan diriku ya Rasulullah?"

" Asal engkau mahu, itu urusan yang mudah!" kata Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam.

Kemudian Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan ia diserah sendiri oleh Zahid ke rumah Said. Disebabkan di rumah Said sedang ada tetamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasulullah yang mulia diberikan untukmu saudaraku."

Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya

seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong…."

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini…. bukankah lebih baik dijemput masuk?"

"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah…..!" dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahawa lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasulullah disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?"

Akhirnya Said berkata, "Lamaran ke atasmu ini adalah perintah Rasulullah."

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi

ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini. Kerena ingat firman Allah dalam

Al-Qur'an surah An Nur 24 : Ayat 51. "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An Nur 24:Ayat 51)"

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya dan segera melangkah pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasulullah yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid?"

"Alhamdulillah ia diterima ya Rasulullah," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasulullah, kami tidak memiliki apa-apa."

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Uthman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan wang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam keadaan itu jugalah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menyeru umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan kelengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?"

Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengetahui?" .

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "jika begitu kelengkapan nikah ini akan aku jual dan akan ku beli kuda yang terbaik."

Para sahabat menasihatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?"

Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!"

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara
, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu

usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu daripada cintakan Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS At Taubah: Ayat 24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an;

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Surah Ali Imran Ayat 169-170.

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi

kamu tidak menyadarinya. " (Al Baqarah :Ayat 154).

Pada saat itulah para sahabat menitiskan air mata dan Zulfah pun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."

Kami Mencintaimu Ya Rasulallah..

Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan sedemikian.
Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudara
mu?” Sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.
“Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,
“Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”
**
Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ Baginda:
“Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.
“Malaikat,” jawab sahabat.
“Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.
Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”
“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”
“Mungkin kami,” celah seorang sahabat.
“Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.
“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
“Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah.
“Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.
Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan terbuktikan dengan kesungguhan beramal dengan sunnahnya.
Dan insya Allah umat akhir zaman itu adalah kita. Pada kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan Baginda Rasulullah saw.

Mahkota Ruhani

Saturday, November 1, 2014

Dua Bisikan

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Al-Hasan al-Bashri R.A berkata: “Sesungguhnya kedua ajakan itu adalah kemauan yang selalu mengitari hati manusia, kemauan dari Allah dan dari musuh, hanya dengan sebab Rahmat Allah, seorang hamba mampu mengontrol kemauan-kemauan
nya tersebut. Oleh karena itu, apa-apa yang datang dari Allah hendaknya dipegang oleh manusia dengan erat-erat dan apa yang datang dari musuh, dilawannya kuat-kuat “.

Mujahid R.A berkata; Firman Allah s.w.t:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi”. (QS. an-Nas; 114/4)

Bisikan itu mencengkram hati manusia, apabila manusia berdzikir kepada Allah, maka setan itu akan melepaskan cengkramannya namun apabila manusia kembali lupa, maka setan itu akan kembali mencengkram hatinya. Muqotil R.A berkata: “Dia adalah setan yang berbentuk babi hutan yang mulutnya selalu menempel di hati manusia, dia masuk melalui jalan darah untuk menguasai manusia lewat hatinya. Apabila manusia melupakan Allah Ta’ala, dia menguasai hatinya dan apabila manusia sedang berdzikir kepada Allah dia melepaskan dan keluar dari jasad manusia itu“.

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A berkata, bahwa di dalam hati ada enam bisikan (khotir): (1) Bisikan nafsu syahwat; (2) Bisikan setan; (3) Bisikan ruh; (4) Bisikan malaikat; (5) Bisikan akal; dan (6) Bisikan keyakinan.

1. Bisikan Nafsu Syahwat
Bisikan nafsu syahwat adalah bisikan yang secara qudroti tercipta untuk memerintah manusia mengerjakan kejelekan dan memperturutkan hawa nafsu.

2. Bisikan Setan
Bisikan setan itu adalah perintah agar manusia menjadi kafir dan musyrik (menyekutukan Allah), berkeluh-kesah, ragu terhadap janji Allah s.w.t cenderung berbuat maksiat, menunda-nunda taubat dan apa saja yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur baik di dunia maupun di akherat. Ajakan setan ini adalah ajakan paling tercela dari jenis ajakan jelek tersebut.

3. Bisikan Ruh
Bisikan ruh adalah bisikan yang mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan juga kepada apa saja yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat. Ajakan ini adalah dari jenis ajakan yang baik dan terpuji.

4. Bisikan Malaikat
Bisikan malaikat sama seperti bisikan ruh, mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan segala yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan juga kepada apa saja yang menyebabkan keselamatan dan kemuliaan.

5. Bisikan Akal
Bisikan akal adalah bisikan yang cenderung mengarahkan pada ajakan bisikan ruh dan malaikat. Dengan bisikan akal tersebut sekali waktu manusia mengikuti nafsu dan setan, maka manusia terjerumus kepada perbuatan maksiat dan mendapatkan dosa. Sekali waktu manusia mengikuti bisikan ruh dan malaikat, maka manusia beramal sholeh dan mendapatkan pahala. Itulah hikmah yang dikehendaki Allah s.w.t terhadap kehidupan manusia. Dengan akalnya, supaya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki namun kemudian manusia juga harus mampu mempertanggungjawabkan atas kesalahan dan kejahatan dengan siksa dan neraka dan menerima balasan dari amal sholeh dengan pahala dan surga.

6. Bisikan Keyakinan
Bisikan yakin adalah Nur Iman dan buah ilmu dan amal yang datangnya dari Allah s.w.t dan dipilihkan oleh Allah s.w.t. Ia diberikan khusus hanya kepada para kekasih-Nya dari para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Shuhada’ dan para Wali-wali-Nya. Bisikan yakin itu berupa ajakan yang selalu terbit dari dalam hati untuk mengikuti kebenaran walau seorang hamba itu sedang dalam lemah wiridnya. Bisikan yakin itu tidak akan sampai kepada siapapun, kecuali terlebih dahulu manusia menguasai tiga hal; (1) Ilmu Laduni; (2) Ahbārul Ghuyūb (khabar dari yang gaib); (3) Asrōrul Umur (rahasia segala urusan).

Bisikan yakin itu hanya diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya. Yaitu orang-orang yang telah mampu fana di hadapan-Nya. Yang telah mampu gaib dari lahirnya. Yang telah berhasil memindahkan ibadah lahir menjadi ibadah batin, baik terhadap ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Orang-orang yang telah berhasil menjaga batinnya untuk selama-lamanya. Allah s.w.t yang mentarbiyah mereka. Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِي

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”. (QS. al-A’raaf; 7/196)

Orang tersebut dipelihara dan dicukupi dengan sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada keridlaan-Nya dan dijaga serta dilindungi dari sebab-sebab yang dapat menjebak kepada kemurkaan-Nya. Orang yang setiap saat ilmunya selalu bertambah. Yaitu ketika terjadi pengosongan alam fikir, maka yang masuk ke dalam bilik akalnya hanya yang datangnya dari Allah s.w.t. Seorang hamba yang ma’rifatnya semakin hari semakin kuat. Nurnya semakin memancar. Orang yang selalu dekat dengan yang dicintainya dan yang disembahnya. Dia berada di dalam kenikmatan yang tiada henti. Di dalam kesenangan yang tiada putus dan kebahagiaan tiada habis. Surga baginya adalah apa yang ada di dalam hatinya.

Ketika ketetapan ajal kematiaannya tiba, disebabkan karena masa baktinya di dunia fana telah purna, maka untuk dipindahkan ke dunia baqo’, mereka akan diberangkatkan dengan sebaik-baik perjalanan. Seperti perjalanan seorang pengantin dari kamar yang sempit ke rumah yang luas. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dunia baginya adalah surga dan akherat adalah cita-cita. Selama-lamanya mereka akan memandang wajah-Nya yang Mulia, secara langsung tanpa penghalang yang merintangi. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, berada di taman-taman dan sungai-sungai – Di tempat yang disenangi di sisi Tuhannya yangMaha Kuasa” .
(QS. al-Qomar; 54/54)

Dan firman Allah s.w.t:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan “.

(QS. Yunus; 10/26)

Firman Allah s.w.t di atas: “Ahsanuu”, artinya berbuat baik dengan menta’ati Allah s.w.t dan Rasul-Nya, serta selalu mensucikan hatinya dengan meninggalkan amal ibadah yang selain untuk-Nya. Allah s.w.t akan membalasnya di akherat dengan surga dan kemuliaan. Diberi kenikmatan dan keselamatan. Ditambahi dengan pemberian yang abadi. Yaitu selama-lamanya memandang kepada wajah-Nya yang Mulia.

“Nafsu dan Ruh” adalah dua tempat bagi setan dan malaikat. Keadaannya seperti pesawat penerima yang setiap saat siap menerima signal yang dipancarkan oleh dua makhluk tersebut. Malaikat menyampaikan dorongan ketakwaan di dalam ruh dan setan menyampaikan ajakan kefujuran di dalam nafsu. Oleh karena itu, nafsu selalu mengajak hati manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan fujur.

Di antara keduanya ada Akal dan Hawa. Dengan keduanya supaya terjadi proses hikmah dari rahasia kehendak dan keputusan Allah yang azaliah. Yaitu supaya ada pertolongan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan dorongan untuk berbuat kejelekan. Kemudian akal menjalankan fungsinya, memilih menindaklanjuti pertolongan dan menghindari ajakan kejelekan, dengan itu supaya tidak terbuka peluang bagi hawa untuk menindaklanjuti kehendak nafsu dan setan. Sedangkan di dalam hati ada dua pancaran Nur, “Nur Ilmu dan Nur Iman”. itulah yang dinamakan yakin. Kesemuanya indera tersebut merupakan alat-alat atau anggauta masyarakat hati. Hati bagaikan seorang raja terhadap bala tentaranya, maka hati harus selalu mampu mengaturnya dengan aturan yang sebaik-baiknya. (Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani, “Al-Ghunyah”; 1/101)

Walhasil, yang dimaksud alam ruhaniah itu bukan alam jin atau alam ghaib, tetapi alam-alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Alam batin yang menyertai alam lahir manusia secara manusiawi. Dengan alam batin, manakala indera-indera yang ada di dalam alam batin itu hidup, maka manusia bisa mengadakan interaksi dengan makhluk batin dengan segala rahasia kehidupan yang ada di dalamnya sebagaimana dengan alam lahir manusia dapat mengadakan komunikasi dengan makhluk lahir dengan segala urusannya.

Untuk menghidupkan indera-indera yang ada di alam batin tersebut, manusia harus mampu mencapainya dengan jalan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mengharapkan terbukanya matahati (futuh) dengan menempuh jalan ibadah (thoriqoh) dengan bimbingan seorang guru mursyid sejati. Perjalanan tersebut bukan menuju suatu tempat yang tersembunyi, melainkan menembus pembatas dua alam yang di dalamnya penuh mesteri. Dengan itu supaya ia mencapai suatu keadaan yang ada dalam jiwa yang dilindungi, supaya dengan keadaan itu ia dapat menemukan rahasia jati diri yang terkadang orang harus mencari setengah mati. Itulah perjalanan tahap awal yang harus dicapai seorang salik dengan sungguh hati. Lalu, dengan mengenal jati diri itu, dengan izin Allah selanjutnya sang pengembara sejati dapat menemukan tujuan akhir yang hakiki, yakni menuju keridhoan Ilahai Rabbi.

Friday, October 31, 2014

Tentang Penyakit

Bila disebut tentang penyakit terbayanglah kepada kita penyakit-penyak
it yang pernah kita alami dan dialami juga oleh orang lain. Ada penyakit yang menyerang tubuh badan dan ada penyakit yang menyerang jiwa atau perasaan. Berbagai macam istilah digunakan untuk membedakan di antara satu penyakit dengan penyakit yang lain. Dalam nama-nama penyakit semua huruf dari A hingga ke Z digunakan, menunjukkan banyaknya penyakit-penyakit yang telah dikenal pasti oleh manusia. Kadang-kadang seseorang yang sakit lebih takut kepada istilah penyakit daripada penyakit itu sendiri. Istilah yang paling ditakuti oleh manusia zaman ini ialah AIDS kerana ilmu pengobatan belum mempunyai hasil yang memuaskan untuk menangani penyakit tersebut.

Penyakit bukan saja melanda masyarakat dan manusia malah hewan dan tumbuh-tumbuhan juga terkena penyakit. Benda-benda galian juga terkena penyakit. Contohnya besi, penyakitnya berkarat dan nasi penyakitnya basi. Penyakit Adalah sesuatu yang menyeluruh, menyerang yang bernyawa dan yang tidak bernyawa. Apabila penyakit menyerang yang bernyawa maka mangsanya di giring kepada kematian. Bila penyakit menyerang yang tidak bernyawa maka mangsanya digiring kepada kebinasaan yaitu rusak, keriput atau hancur.

Penyakit menjadi musuh utama manusia. Manusia tidak menyerah bulat-bulat kepada keganasannya. Dalam menangani masalah penyakit, manusia mengambil langlah-langkah mengobati orang yang telah dihinggapi penyakit dan melakukan pencegahan kepada yang belum berpenyakit. Perbelanjaan yang besar digunakan bagi tujuan merawat dan pencegahan tersebut. Kajian demi kajian, penelitian demi penelitian dilakukan, hasilnya muncullah para dokter yang pakar dalam semua bidang penyakit. Muncullah obat-obatan yang di anggap bisa mengobati penyakit. rumah sakit dibangun di mana tempat. Tidak cukup dengan pengobatan moden, ada pula pengobatan tradisional, yang semuanya dituju untuk mengobati penyakit atau mencegahnya.

Manusia boleh saja berusaha mencegah dan mengobati tetapi tidak berupaya untuk menghapuskan penyakit. Seseorang yang belum terkena penyakit boleh saja melakukan usaha pencegahan sehingga dia terhindar dari penyakit tersebut. Orang yang telah diserang penyakit boleh berobat sehingga penyakitnya sembuh, namun tidak ada obat dan alat untuk menghapuskan penyakit. Penyakit akan berjalan terus dari satu orang kepada orang yang lain. Apa yang manusia lakukan. Adalah merawat akibat dari tindakan penyakit atau mengadakan langkah pencegahan dari terkena akibatnya sedangkan penyakit itu sendiri tidak dapat ditangani. Bagaimana mau menangani penyakit sedangkan tidak ada yang pernah melihat penyakit dan tidak diketahui hakikatnya yang sebenar penyakit. Apa yang dilihat atau diketahui. Adalah kesan atau akibat dari tindak tanduk penyakit sementara hakikat penyakit itu sendiri tersembunyi. Manusia boleh merasakan kesakitan tetapi mereka tidak bisa melihat atau menjelaskan apakah yang sebenarnya kesakitan itu. rasa sakit itu bisa dirasakan tetapi tidak bisa dirupakan dan dijelaskan suatu nama penyakit di ambil dari rasa yang di timbulkan dan kesan yang mengenai si sakit sehingga di ambil suatu kesimpulan dari nama sakitnya, sementara bentuk dari sakit sendiri itu tetap menjadi rahasia, para pakar kedokteran hanya mengambil suatu kesimpulan, dan tak jarang kesimpulan yang di ambi, dari sakit itu adalah salah, tapi pasien tak bisa berkata tidak, hanya pasrah saja sakitnya di tuduhkan sakit apa.

Penyakit yang melibatkan tubuh badan biasanya mudah diketahui. Pasien menyadari yang dia berpenyakit walaupun dia tidak pasti apakah penyakitnya. Kesadaran tersebut membawanya berjumpa dengan dokter untuk mendapatkaan rawatan atau jawaban pasti dari sakit yang di rasdakannya. Jadi, sebarang penyakit yang mengenai tubuh badan mudah diketahui dan mudah di simpulkan karena bersifat jasmani, kesimpulan juga bisa di ambil, misal sakit di gigi maka di ambil kesimpulan sakit gigi, sakit di mata , maka di ambil kesimpulan sakit mata, dll, lalu nama-nama aneh di pakai nama sakit itu, agar obat makin beragam, dan beraneka warna, di sesuaikan dengan sakitnya, juga dokter makin macam-macam spesialisasinya.

Namun, terdapat banyak penyakit yang tidak mengenai tubuh badan tetapi sangat sukar diketahui. Orang yang berpenyakit tidak mengetahui dan tidak menganggap dirinya berpenyakit. Bahkan kebanyakan manusia menganggap penyakit tersebut sebagai bukan penyakit. Tetapi, sekiranya direnung dengan mendalam didapati penyakit yang tidak dianggap sebagai penyakit itu sangat membahayakan kepada kehidupan manusia, lebih berbahaya daripada penyakit yang menyerang tubuh badan. Cuba kita perhatikan akibat yang timbul daripada penyakit-penyakit yang dianggap sebagai bukan penyakit itu.

CONTOH PERTAMA

Seorang kanak-kanak berumur tiga tahun mati akibat didera. Seluruh masyarakat mengakui bahawa kematian itu Adalah akibat deraan. Perbuatan mendera adalah perubatan yang kejam. Orang yang melakukannya dikatakan seorang yang kejam. Si pendera itu dianggap sebagai seorang yang kejam bukan sebagai seorang yang berpenyakit. Kita tidak melihat bahwa orang tersebut menghidap penyakit yang menyebabkan dia bisa bertindak kejam dan ganas. Kekejaman bukanlah sifatnya tetapi ia adalah sifat penyakit yang dihinggapinya. Oleh sebab orang tadi tidak tahu dia berpenyakit dan orang lain juga tidak sadar dia berpenyakit maka penyakit itu dapat bergerak dengan bebas menguasai orang itu sehingga dia tidak ada daya melawan. Bila penyakit sudah dapat menguasainya, maka penyakit tersebut menyalurkan sifat-sifatnya kepada orang tadi. Si mangsa hanya menjadi alat kepada penyakit yang menguasainya. Penyakit itulah yang mendera anak-anak berkenaan sehingga mati, dengan menggunakan manusia sebagai alatnya.

CONTOH KEDUA

Seorang isteri coba berdaya upaya untuk menyenangkan hati suaminya. Dia bersopan santun menguruskan rumahtangga dengan baik dan menjaga keperluan suaminya dengan teratur. Secara logikanya sang suami tentunya puas hati mempunyai isteri yang baik serta bertanggungjawab dan tentunya sang suami juga menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab. Tetapi, yang terjadi sebaliknya Sang suami tidak pernah menunjukkan sikap berpuas hati dengan isterinya. Dia senantiasa mengomel. Ada saja perbuatan isterinya yang tidak di suka pada pandangannya. Bukan itu saja bahkan sang suami gemar memikul isterinya tanpa alasan yang jelas, Sang isteri pula boleh menerima deraan suaminya seolah-olah deraan itu satu kemanisan bagi rumahtangga mereka. sebagai ketaatan pada isuaminya, dan di anggap akan mendapatkan pahala, Sang suami gemar menunjukkan kejantanannya dengan memikul isterinya dan dia berasa puas mendengar isterinya merayu dan menyembahnya. Sang isteri pula merasakan dia telah membuktikan kasih sayangnya dengan menerima deraan suaminya. Bahkan sang isteri itu berasa bangga bila dia mengugut mahu meninggalkan suaminya maka sang suami itu merayu pula kepada isterinya sambil memohon ampun dan maaf atas kekasaran yang telah dilakukannya.

Suami isteri ini menganggap fenomena yang berlaku dalam rumahtangga mereka sebagai sesuatu yang normal. Mereka tidak merasakan yang mereka berdua berpenyakit. Orang di keliling mereka juga tidak menganggap pasangan tersebut berpenyakit. Maka tidak ada usaha pengobatan dilakukan.

CONTOH KETIGA

ada pertandingan sepak bola antar kampung, ketika pertandingan berlangsung maka salah satu kemasukan gol, karena kemasukan gol maka para pendukung sporter tak terima yang di dukungnya kalah, lalu menyalahkan kesebelasan lawan yang telah memasukkan gol, dan terjadilah lempar botol atau apa saja ke group lawan, sporter lawan pun tak terima kalau pemain yang di dukungnya di lempar maka balas melempar akhirnya terjadi tawuran antara sporter dan adu jotos antara pemain, dan banyak yang luka bahkan kerusuhan meluas ke kampung dan mana-mana tempat, masing masing mendukung kesebelasannya, dan itu menunjukkan semua berpenyakit.

CONTOH KEEMPAT

ada orang yang bekerja para perusahaan atau pemerintahan yang mengkorupsi uang rakyat, banyak uang di hambur-hamburkan untuk foya-foya, tapi itu bukan uangnya tapi uang korupsi, orang yang melakukan itu cenderung di anggap sebagai orang yang bersalah, bukan sebagai orang yang sakit.

CONTOH KELIMA

Seorang suami yang sangat menyayangi isterinya mencukupi isterinya dengan penuh kasih sayang dan kemewahan. Isterinya membalas dengan memberinya layanan yang penuh dengan kemesraan. Bahagia sekali kehidupan mereka. Si suami tidak ragu-ragu untuk meninggalkan rumahnya di bawah penjagaan isteri tercinta. Bila dia keluar negeri untuk beberapa hari karena urusan pekerjaan, dia sangat yakin dengan kesetiaan isterinya. Lantaran sangat rindukan isterinya, satu hari dia mempersingkat urusannya di luar negeri, sesudah beberapa hari isterinya tidak melihatnya tentu isterinya itu sangat merindukannya, seperti yang dia sendiri rasakan. Dia mau pulang dengan ‘surprise’.

Dia memasuki rumahnya dengan diam-diam. Dicarinya isterinya di ruang tamu tidak ada. Di dapur juga tidak ada. Agaknya isterinya sedang tidur karena kesunyian ditinggal sendirian. Lalu dia berjalan perlahan-lahan ke kamar tidurnya supaya isterinya akan terkejut nanti apabila melihatnya tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

Dia membuka pintu biliknya dengan perlahan-lahan. Apabila dia membuka pintu biliknya dia berhadapan dengan satu pemandangan yang sangat-sangat mengejutkan. Dia hilang kesadaran dan tidak tahu apa yang terjadi. ketika kesadarannya kembali di dapatinya isterinya sudah menjadi mayat dan di sebelah mayat isterinya terbujur mayat seorang pemuda yang tidak dikenalinya. Dia melihat pistol berada di tangannya tetapi dia tidak ingat bila dia melepaskan tembakan. Peristiwa itu terjadi dengan cepat sekali sehingga dia tidak tau dan tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Bila dia dipenjarakan, dia masih tertanya-tanya apa dia atau ada orang lain yang telah menembak isterinya dan pemuda di dalam kamar tidurnya.

banyak sekali kejadian di masyarakat tentang kejadian dan contoh yang terjadi, apa yang terjadi itu adalah bom waktu, Setiap individu membawa bersama-sama dirinya bom waktu, Sekali sekala masyarakat dikejutkan oleh bom waktu yang sudah sampai masa untuk meletus. Masyarakat menganggapnya sebagai satu Kejadian yang biasa berlaku dalam kehidupan seharian. Peristiwa yang mengejutkan itu dibicarakan beberapa saat kemudian dilupakan. Masyarakat lupa bahwa banyak lagi bom yang belum meletus. orang yang punya bom yang sudah meletus itu mungkin memiliki beberapa biji lagi bom yang belum meletus. Dia dibiarkan bebas bergerak di dalam masyarakat dengan membawa bom-bom yang masih aktif.

Bom individu mempunyai kekuatan yang berbeda-beda dalam menggoncangkan masyarakat. Ada yang lemah dan ada yang kuat. Seorang suami yang hidup dengan isterinya hanya menggoncangkan keluarganya dan mungkin juga tetangganya. seorang pejabat pemerintah akan menggoncangkan area pemerintahannya dan begitu seterusnya masing masing mempunyai bom waktu yang akan menggoncangkan areanya, Begitulah kekuatan bom-bom individu yang berbeda-beda. Bom-bom individu boleh bergabung untuk menghasilkan tenaga yang lebih kuat. Satu kampung orang mengamuk akan melukai banyak orang, juga satu pasukan yang bertempur akan banyak menjadikan banyak nyawa melayang.

Penyakit yang melibatkan tubuh badan mudah dikenali dan diobati. Sebaliknya penyakit bom waktu yang ada dalam masyarakat dan setiap individu itu sulit di kenali, sehingga kita tak sadar bom itu akan meledak dan kita sama sekali tak berusaha menghindarinya, dan terbawa dalam ledakannya. dan bom waktu itu haruslah di obati dari hati dari dalam hati kita terdalam, dengan menyadari hidup yang saling menjaga dan saling menghargai hidup untuk mencapai keseamatan bersama, keselamatan dunia akherat. mengobatinya bukan dari mana-mana, atau dari apa atau dari menelisik ke arah masyarakat, tapi dari diri kita dari dalam hati terdalam kita, membenahi hati kita, mengembalikan cara hidup yang pernah di ajarkan rasulullah saw, memperbaiki budi pekerti bukan hanya lahiriah kita tapi juga batiniah kita, hati kita bukan hati yang penuh kepalsuan, dan dari dalam itulah ketentraman dan kedamaian bisa di gali.
 
Mahkota Ruhani

Monday, October 27, 2014

Ruang Lingkup, Standar isi, Krakteristik SKI



RUANG LINGKUP
4) Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang lingkup  Sejarah Kebudayan Islam  di Madrasah Ibtidaiyah
meliputi:
a) Sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan
kerasulan Nabi Muhammad Saw.
b) Dakwah Nabi Muhammad  Saw..  dan para sahabatnya, yang
meliputi kegigihan dan ketabahannya dalam berdakwah,
kepribadian Nabi Muhammad  Saw., hijrah Nabi Muhammad
Saw.. ke Thaif, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.
c) Peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw.. ke Yatsrib, keperwiraan
Nabi Muhammad  Saw., peristiwa Fatpu Makkah, dan peristiwa
akhir hayat Rasulullah Saw.
d) Peristiwa-peristiwa pada masa khulafaurrasyidin.
e) Sejarah perjuangan Wali Sanga.
4) Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang  lingkup Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Tsanawiyah
meliputi:
a) Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw. periode Makkah.
b) Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw. periode Madinah.
c) Memahami peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin.
d) Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasti Bani
Umaiyah.
e) Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasti Bani
Abbasiyah.
f)    Perkembangan masyarakat Islam  pada masa Dinasti Al
Ayyubiyah.
g) Memahami perkembangan Islam di Indonesia.
4) Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang  lingkup mata pelajaran  Sejarah Kebudayan Islam  di
Madrasah Aliyah meliputi:
a) Dakwah Nabi Muhammad  Saw.  pada periode Makkah dan
periode Madinah.
b) Kepemimpinan umat setelah Rasulullah Saw. wafat.
c) Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (pada tahun
650 M–1250 M).
d) Perkembangan Islam pada abad pertengahan/zaman kemunduran
(1250 M–1800 M).
e) Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan
(1800-sekarang).
f)    Perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.
STANDAR ISI
Standar Isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi
untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
PENGERTIAN
3.  Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan catatan perkembangan perjalanan
hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam beribadah, bermuamalah dan
berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupan atau menyebarkan
ajaran Islam yang dilandasi oleh akidah.
KARAKTERISTIK
4.  Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) menekankan pada kemampuan mengambil
ibrah/ hikmah (pelajaran) dari sejarah Islam, meneladani tokoh-tokoh
berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik,
ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain, untuk mengembangkan Kebudayaan dan
peradaban Islam pada masa kini dan masa yang akan datang.
TUJUAN
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan
sebagai berikut:
a) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam 
yang telah dibangun oleh Rasulullah  Saw.  dalam rangka
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
b) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu
dan tempat yang merupakan  sebuah proses  dari masa lampau,
masa kini, dan masa depan.
c) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah
secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
d) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap
peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di
masa lampau.
e) Mengembangkan  kemampuan peserta didik dalam mengambil
ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani
tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena
sosial, budaya, politik, ekonomi,  iptek dan seni, dan lain-lain
untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
a) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam 
yang telah dibangun oleh Rasulullah  Saw.  dalam rangka
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
b) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu
dan tempat yang merupakan  sebuah proses dari masa lampau,
masa kini, dan masa depan.
c) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah
secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut:1)Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam 
yang telah dibangun oleh Rasulullah  Saw.  dalam rangka
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.2) Membangun
kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang
merupakan  sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa
depan, 3) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta
sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah. 4)
Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap
peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di
masa lampau. 5) Mengembangkan  kemampuan peserta didik dalam
mengambil  ibrah  dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam),
meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan
fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-
lain untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam.

Proses Pembelajaran



Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:
a.  mengamati;
b.  menanya;
c.  mengumpulkan informasi;
d.  mengasosiasi; dan
e.  mengkomunikasikan.

Kelima pembelajaran pokok  tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 1: Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan Maknanya.
LANGKAH
PEMBELAJARAN
KEGIATAN BELAJAR
KOMPETENSI
YANG
DIKEMBANGKAN
Mengamati 
Membaca, mendengar,
menyimak, melihat
(tanpa atau dengan alat)
Melatih
kesungguhan,
ketelitian, mencari
informasi 
menanya;
Mengajukan pertanyaan
tentang informasi yang
tidak dipahami dari apa
yang diamati atau
pertanyaan untuk
mendapatkan informasi
tambahan tentang apa
yang diamati
(dimulai dari pertanyaan
faktual sampai ke
pertanyaan yang bersifat
hipotetik)
Mengembangkan
kreativitas, rasa
ingin tahu,
kemampuan
merumuskan
pertanyaan untuk
membentuk pikiran
kritis yang perlu
untuk hidup cerdas
dan belajar
sepanjang hayat
mengumpulkan informasi;eksperimen
- melakukan eksperimen
- membaca sumber lain
selain buku teks
- mengamati objek/
kejadian/
- aktivitas
- wawancara dengan nara
sumber 
Mengembangkan
sikap teliti,
jujur,sopan,
menghargai
pendapat orang
lain, kemampuan
berkomunikasi,
menerapkan
kemampuan
mengumpulkan
informasi melalui
berbagai cara yang
dipelajari,
mengembangkan
kebiasaan belajar
dan belajar
sepanjang hayat.
mengasosiasi;mengolah informasi
- mengolah informasi
yang sudah
dikumpulkan baik
terbatas dari hasil
kegiatan
mengumpulkan/eksperi
men mau pun hasil dari
kegiatan mengamati
dan kegiatan
mengumpulkan
informasi. 
- Pengolahan informasi
yang dikumpulkan dari 
yang bersifat
menambah keluasan
dan kedalaman sampai
kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari
berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang
berbeda sampai kepada
yang bertentangan 
Mengembangkan
sikap jujur, teliti,
disiplin,  taat
aturan, kerja keras,
kemampuan
menerapkan
prosedur dan
kemampuan
berpikir induktif
serta deduktif
dalam
menyimpulkan .
mengkomunikasikan
Menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan
berdasarkan hasil
analisis secara lisan,
tertulis, atau media
lainnya
Mengembangkan
sikap jujur, teliti,
toleransi,
kemampuan
berpikir sistematis,
mengungkapkan
pendapat dengan
singkat dan jelas,
dan
mengembangkan
kemampuan
berbahasa yang
baik dan benar.